5 Cara Mengendalikan Emosi Saat Mendisiplinkan Anak

Ingat, sifat keras tidak bisa dilawan dengan sifat keras pula, tetapi harus dengan sifat lembut. Saat anak balita memasuki usia 1-2 tahun, kemampuan berbicaranya sudah mulai lancar dan biasanya si kecil mulai senang menunjukkan kemampuannya tersebut dengan cara berteriak. Berteriak yang dilakukan si kecil merupakan salah satu cara berkomunikasi untuk mendapatkan perhatian dari orang tua atau lingkungan di sekitarnya. Berteriak juga merupakan caranya menyampaikan perasaan dan pikirannya.

Agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, mulailah untuk mengontrol emosi saat berhadapan dengan anak. Sehingga, pertumbuhan anak pun optimum, baik dari segi fisik maupun kesehatan psychological. Bunda sebaiknya tidak langsung menanggapi dengan emosi ketika mendengar si Kecil mengucapkan kata-kata tak pantas. Tetap tenang dan pahami alasan anak sengaja melakukan hal yang tidak menyenangkan Bunda.

Akan tertanam dalam jiwanya bahwa ia hanyalah anak yang selalu melakukan kesalahan, tidak pernah bisa berbuat kebaikan atau menyenangkan orang lain. Akibatnya anak menjadi ragu-ragu dan tidak percaya diri untuk melakukan sesuatu karena takut salah. Hasilnya mencengangkan, rangkaian indah yang terbentuk saat anaknya disusui ibunya tiba-tiba menggelembung seperti balon dan pecah berantakan serta terjadi perubahan warna. I-Message melatih orang tua dan anak untuk peduli pada sisi humanis manusia yang terkait dengan emosi dan perasaan yang terlibat pada suatu peristiwa/konflik.

Jadi, usahakan mendidik anak yang keras kepala dengan cara menciptakan lingkungan yang menyenangkan serta memberi contoh yang baik. Di sisi lain, sifat keras kepala dan sulit diatur sebenarnya merupakan cara si kecil untuk belajar soal kebebasan dan batasan-batasan perilaku yang bisa diterima dan tidak. Usia balita merupakan masa-masa golden age dimana miliaran sel otak anak berkembang amat pesat di umur 0-6 tahun. Itu sebabnya dalam fase emas ini, apa yang diserap anak dari kesehariannya diyakini dapat mempengaruhi sikap, karakter, kecerdasan, serta ability lainnya di kemudian hari. Orangtua yang suka membentak anak tentu akan menimbulkan rasa takut bagi anak.

Para periset menunjukkan, bahwa dengan semakin tenang berbicara, semakin mudah juga untuk menenangkan perasaan dan menahan emosi. Sebaliknya, jika menggunakan kata makian atau bentakan pada anak, semakin naik juga amarah dalam diri. Semakin sering dilatih, maka orantua bisa menguasai diri dan membuat anak mengerti bahwa perilakunya salah.

Agresi verbal yang timbul dapat berupa berteriak, membentak, mengumpat atau berkata-kata kotor, menghina, dan sebagainya. Agresi non-verbal yang muncul dapat berupa perilaku merusak, menyakiti, memukul, dan sebagainya. Perilaku ini juga sulit diprediksi karena dapat muncul sewaktu-waktu bahkan jika masalah yang dihadapi sebenarnya bukan masalah yang besar. Penderita Intermittent Explosive Disorder juga biasanya mengalami gejala fisik sebagai akibat dari ledakan amarahnya, seperti sakit kepala, sulit bernafas, tremor, dan sebagainya.

Bahkan jika ia sedang melaksanakan shalat sunnah, tidak menjadi kesalahan jika membatalkan shalat tersebut untuk memenuhi panggilan orang tua. Selama orang tua memberikan perintah yang tidak bertentangan dengan aturan Allah, maka wajib untuk mengikutinya. Selain itu, jika perintah orang tua melebihi kemampuan anak, maka seorang anak perlu berusaha semampunya atau menolak dengan cara yang baik jika memang benar-benar terpaksa harus menolak. Seorang anak perlu mendengar dengan baik saat orang tua berbicara. Khususnya jika pembicaraan tersebut adalah pembicaraan serius atau nasihat.

Sebab itu adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan kewajiban yang harus dilakukan. Selain itu, hubungan yang tak baik dengan orang tua juga bisa memicu anak untuk membantah. Didiklah anak Anda dengan baik, maka anak Anda akan memberikan sukacita bagi Anda dan keluarga. Jangan sekali-kali memberikan contoh pada anak Anda untuk berbohong.

Berbicara dengan anak tanpa membentak

Sehingga, ketika anak telah dewasa, dan menghadapi masalah, solusi yang terpikirkan adalah perilaku kasar dan tidak akan ragu membentak orang lain. Selain itu, saat dewasa nanti, akan lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan depresi akibat trauma masa kecilnya. Namun, tahukah Moms, kebiasaan membentak anak dapat membawa pengaruh buruk buat Si Kecil?